Pilpres
di Amerika Serikat baru saja usai dengan kemenangan Barack Obama dari Partai
Demokrat. Barack Obama terpilih dengan kemenangan telak 303-206 atas Mitt
Romney pada lapis utusan (electoral college) dari 50 negara bagian ditambah
satu daerah khusus Washington, kecuali
Florida. Pada lapis pemilih, Obama untuk sementara unggul 60,6 juta
dibandingkan 57,7 juta suara.
Selama beberapa minggu terakhir, pilpres AS
menjadi topik yang sangat menarik dibahas di media baik oleh kalangan cerdik
pandai maupun wartawan. Ada banyak kacamata yang digunakan dalam melihat Pilpres
AS ini. Sebagian menilai dari sisi sebab sebab kemenangan Obama, ada yang
melihat bagaimana hubungan Indonesia AS akan dibangun dibawah pemerintahan
Obama jilid yang ke II ini dan ada juga yang mengkritik pemerintah Indonesia
yang tidak mampu menggunakan momentum ini untuk kepentingan Indonesia mengingat
ada keterkaitan historis Obama dengan Jakarta. Semua pendapat-pendapat yang
mengemuka itu tentu ada benar dan salahnya.
Dalam
polling yang dipublikasikan oleh beberapa media dan lembaga survei tergambar
bahwa pilpres AS kali ini adalah pemilu yang sangat ketat, melampaui ketatnya
pilpres 1960 ketika John F Kennedy bertarung dengan Richard Nixon. Di Indonesia
sendiri mungkin belum ada pilpres yang sedemikian ketatnya, tidak di 2008 dan
tidak juga di 2004 lalu yang keduanya dimenangkan SBY. Mengapa sampai
sedemikian ketatnya? Berbeda dengan pilpres di Indonesia, pilpres di AS adalah
pertarungan dua visi dan ideologi berbeda. Romney adalah konservatif dari
Republikan yang seorang konglomerat pemilik Bain Capital. Sedangkan Obama
adalah seorang liberal dari Demokrat yang pernah menjalani masa pubernya di
Indonesia. Tahun 1967, ketika Obama masih bersekolah di Jakarta, Gubernur Michigan
George Romney ayah dari Mitt Romney yang juga capres AS ketika itu datang ke
Jakarta menemui Presiden Soeharto. Mungkin tidak disadari Obama bahwa kelak ia
akan bertarung di pilpres AS dengan putra sang gubernur. Disini pun jelas
tergambar latar belakang masa kecil dari Romney dan Obama.
Selama
kampanye Obama sedikit lebih menonjol dibandingkan Romney. Obama ingin
pemerintah ikut campur tangan dalam hal sistem asuransi kesehatan serta
pendidikan anak Amerika, sementara Romney tidak berpihak ke arah sana. Romney
menekankan prinsip pasar bebas itu tetap berlaku. Ada yang beranggapan bahwa
Romney juga adalah simbol kapitalisme yang membawa kepentingan Wall Street.
Obama bertekad membawa AS menjadi welfare
state mirip di Eropa, sebaliknya Romney sangat menganjurkan free and open competition yang
menjunjung tinggi kerja keras dan kapitalisme.
Dalam
polling yang dipublikasikan kompas pada 7 November 2012, Obama didukung oleh 56%
dari kalangan yang berpendapatan 36.000 dollar per tahun, sementara Romney
hanya memperoleh dukungan 38%. Namun untuk kelas yang berpendapatan 90.000 dollar per tahun, dukungan kepada
Romney mencapai 52% dan Obama hanya 44%. Angka ini jelas menjadi potret perbedaan
ideologi dan keberpihakan yang mereka bawa.
Dan
perlu diketahui bahwa tiga per empat pemilih mengaku bahwa faktor ekonomi
menjadi pertimbangan utama memilih kali ini. Hal ini menggambarkan bahwa
mayoritas pemilih AS secara rasional menyadari bahwa apa yang terjadi dengan
ekonomi Amerika Serikat sekarang bukanlah kesalahan kebijakan Obama sebelumnya
melainkan faktor pertumbuhan ekonomi global yang melamban. Kepercayaan
masyarakat AS ini menjadi penting karena saat ini AS sedang diancam krisis
anggaran dengan defisit sekitar 1 miliar dollar AS per tahun dan utang publik
mencapai 16 trilliun dollar AS. Belum lagi ditambah dengan 50 juta warga miskin
yang mengandalkan kupon makan gratis pemerintah dan 23 juta orang pengangguran.
Angka angka ini menjadi gambaran yang wajar mengapa faktor ekonomi menjadi
alasan pemilih dan itu artinya ideologi ekonomi dan titik keberpihakan capres
AS ini sangat berpengaruh banyak pada distribusi suara.
Lalu
bagaimana dengan Indonesia?
Kebalikan
dengan Indonesia pada pilpres pilpres yang lalu, hampir tidak ada pertarungan
ideologi yang jelas. Di pilpres 2004 misalnya, pada pilpres putaran kedua
ketika Megawati dengan partai pengusung PDIP membawa jargon ekonomi kerakyatan
dan lawannya SBY dari Demokrat yang menunjukkan ideologi demokratisnya. Di 2008
juga tidak jauh berbeda ketika Megawati tetap membawa jargon wong cilik dan ekonomi kerakyatan dan
SBY dengan jargon lanjutkan serta Jusuf
Kalla yang membawa jargon lebih cepat
lebih baik. Dari ketiga calon ini
saya hampir tidak melihat perbedaan dan pertarungan ideologi yang ketat dalam
visi membawa Indonesia ke arah mana. Prinsip ekonomi kerakyatan memang bisa
menjadi ideologi ekonomi namum jika tidak jelas arahnya hanya akan sebatas
jargon. Begitu juga dengan jargon lebih cepat lebih baik yang sama sekali tidak
menunjukkan ideologi yang dibawa. Dalam kampanye, yang “dijual” selalu tidak
jauh jauh dari pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Maka dari itu visi yang
dibawa juga semuanya hampir sama dan abu abu. Pada praktik pemerintahan juga
begitu, SBY menekankan pro poor, pro
growth, pro job dan pro environment. Ini bukanlah ideologi maupun strategi
dalam mencapai visi Indonesia. Bagi saya apapun ideologinya, apa yang dimaksudkan
SBY inilah tujuan yang ingin dicapai. Masalahnya adalah bagaimana cara mencapai
tujuan tersebut tidaklah tercermin dalam ideologi partai yang mengklaim sebagai
Nasionalis Religius ini.
Pilpres
AS juga jelas merupakan pertarungan antar dua ideologi mengenai titik pengenaan
pajak. Obama dan Romney bertarung menunjukkan letak keberpihakan terhadap
rakyatnya. Obama jelas lebih memilih titik pengenaan pajak pada kalangan
menengah ke atas sedangkan Romney sebaliknya justru melindungi kalangan
menengah ke atas untuk tetap memacu pertumbuhan ekonomi lewat investasi
investasi oleh kalangan atas yang dimungkinkan jika pajak bagi mereka tidak
terlalu berat. Masalah titik pengenaan pajak ini penting mengingat taipan dan
pialang saham Warren Buffet pernah mengatakan bahwa ia merasa aneh bahwa pajak
yang dibayar oleh pekerjanya lebih besar daripada pajak yang ia bayar. Hal ini
sangat penting juga dibahas pada kampanye pilpres Indonesia kelak.
Pembukaan
UUD 1945 mengamanatkan bahwa visi Indonesia adalah “membentuk pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia,
seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia...”. Menurut saya,
penjabaran dan ideologi dalam pencapaian visi negara inilah yang harus
dipertarungkan dalam pilpres. Masalah pendidikan dan kesehatan gratis tidak
lagi relevan dibawa ke ranah kampanye karena sudah menjadi kewajiban negara
untuk melindunginya sesuai amanat UUD 1945. Butuh semacam ability to see unseeing things sehingga jelas tidak mudah menjadi
pemimpin Indonesia. Jika hal ini diamini maka akan banyak yang menyadari bahwa
dia tidak layak mejadi presiden bahkan menjadi capres saja pun, bukan justru
berlomba mengaku diri layak menjadi presiden. Bertarung pada ranah ideologi
membutuhkan wawasan politik, kenegaraan, kepekaan dan visi yang mumpuni. Inilah
yang terjadi di AS dan sayangnya belum terjadi di Indonesia.
Semoga kelak di pilpres 2014, capres capres
Indonesia sudah menunjukkan kemampuan dan keberanian bertarung pada ranah
ideologi, titik keberpihakan yang jelas, dan penjabaran strategi akan
pencapaian visi Indonesia secara tegas, tidak sebatas retorika yang abu-abu dan
suam-suam kuku saja. Tidak kalah pentingnya juga adalah semoga pemilih semakin
rasional dan cerdas, tidak diperdaya oleh janji gratisan ketika kampanye melainkan mampu menetapkan pilihan yang
argumentatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar