Konsep mestakung (alam semesta mendukung)
dipopulerkan oleh Prof Yohannes Surya, fisikawan yang membina Tim Olimpiade
Fisika Indonesia (TOFI). Dibawah bimbingan beliau, banyak sekali prestasi yang
telah diraih oleh TOFI di berbagai level, mulai dari Asian Physics Olimpiad
(APhO) hingga International Physics Olimpiad (IPhO) dengan raihan mulai dari
perunggu, perak, emas dan Absolute Winner. Capaian ini sangat luar biasa dan
membuat Indonesia sangat disegani karena tidak kalah dengan siswa dari
negara-negara maju seperti Eropa, Amerika Serikat, China, dll. Menjadi lebih
luar biasa karena Prof Yo, demikian biasa ia dipanggil, membuktikan bahwa kunci
pencapaian sukses ini adalah pembinaan dan tidak melihat apakah calon peserta
olimpiade harus dari sekolah-sekolah bertaraf internasional dari kota-kota
besar. Prof Yo juga merekrut dari daerah-daerah terpencil untuk ditempa menjadi
andalan di tim olimpiade ini. Bahkan Prof Yo pernah merekrut dari Papua seorang
siswa SD yang akan dibina di tim olimpiade ini padahal siswa tersebut keliru
menjawab penjumlahan ½ ditambah 1/3 dengan menjawab 1/5.
Prof Yo telah membuka rahasia dibalik
kesuksesannya membimbing anak-anak didiknya di TOFI lewat buku Mestakung (alam
semesta mendukung). Bahkan konsep mestakung ini telah diangkat ke layar lebar
yang dibintangi oleh budayawan kondang, Sudjiwotedjo. Prinsip mestakung adalah
bahwa usaha yang kita lakukan harus sampai pada titik paling maksimal sehingga
pada titik itu alam semesta/lingkungan kita turut bergerak menyalurkan
“energi”-nya untuk pencapaian tujuan dari usaha kita. Secara rinci dan
ilmiahnya ada di publikasi Prof Yo.
Konsep mestakung ini sering berkecamuk dalam
pikiran saya ketika sedang berada di tengah-tengah macetnya Jakarta. Di tengah
rasa jenuh menunggu “antrian” macet di jalanan yang panas, pengap, dan penuh
dengan asap knalpot serta rasa jengkel ketika melihat minimnya disiplin
berkendara dari pengguna jalan, sering kali pula pejabat pemerintah melintas
dengan sirine vorrijder dan sirine polisi memaksa memecah kemacetan. Tidak
jarang pula saya mendengar masyarakat mengumpat dan ingin marah ketika mobil
mobil plat merah dari para pejabat ini melintas. Budayawan Sudjiwotedjo bahkan
pernah berkicau di akun twitternya bahwa sirine polisi di jalan raya itu lebih
mirip suara babi, dengan arogan ingin mengatan bahwa gue penguasa, elo rakyat, minggir. Rasanya ada banyak orang yang
merasa terwakili dengan kekesalan Sudjiwotedjo ini.
Penasaran dengan alasan penggunaan vorrijder dan
sirine polisi ini, saya pun berusaha mencari tahu. Saya pun akhirnya menemukan
suatu kesimpulan bahwa hal itu terjadi karena pejabat terburu-buru untuk
agenda-agenda negara yang penting dan tidak boleh terlambat. Joko Widodo pun
yang katanya menolak penggunaan vorrijder, memberikan pengecualian bila
agendanya adalah pertemuan dengan kepala negara atau tamu-tamu negara asing.
Artinya demi kepentingan agenda (pejabat) negara, masyarakat pengguna jalan
haruslah mengalah dan memberi jalan.
Pada suatu senja ketika duduk menunggu redanya
hujan di halte transjakarta di sekitaran Tebet, Jakarta Selatan akhirnya saya
terinspirasi menggunakan konsep mestakung dalan menangani macetnya ibukota ini.
Ketika itu daerah Tebet sedang macet parah di jam pulang kantor dan melintaslah
iring-iringan pejabat plat merah dikawal polisi dan vorrijder sehingga pengguna
jalan harus menepi. Dari platnya saya tahu bahwa yang melintas adalah pejabat
setingkat menteri. Saya berasumsi saja semoga pejabat yang melintas benar-benar
sedang menjalankan agenda negara, bukan sedang pulang ke rumahnya di Cibubur,
mungkin. Terbersit di pikiran saya, selama pejabat negara masih tetap
menggunakan vorrijder ataupun sirine polisi untuk memecah macetnya Jakarta,
beliau-beliau tersebut tidak akan pernah sampai pada titik maksimal (mestakung)
dalam memikirkan solusi macetnya Jakarta. Pejabat ini tidak akan bisa
menggunakan daya pikirnya hingga titik maksimal dan berada pada kondisi alam
semesta mendukung dalam mencari solusinya.
Saya pun membayangkan seandainya semua pejabat
negara diwajibkan naik angkutan umum ataupun paling tidak vorrijder dilarang
penggunaannya. Akan banyak sekali agenda (pejabat) negara yang kacau dan
pertemuan-pertemuan yang tidak on time. Bahkan
jika itu terkait dengan pertemuan-pertemuan dengan investor-investor asing,
misalnya, bisa aja pembicaraan rencana investasi akan dibatalkan.
Konsekuensinya tentu saja adalah kerugian besar yang harus kita tanggung akibat
pembatalan investasi ini. Hal ini tentu hanya contoh kecil saja dari begitu
banyak agenda negara yang memiliki limit waktu dan agenda negara yang
eksekusinya sangat peka waktu.
Apa yang saya bayangkan kemudian berlanjut pada
suatu situasi dimana para pejabat negara dipaksa untuk memobilisasi daya
pikirnya untuk mencapai titik dimana mestakung terjadi dalam mencari solusi
kemacetan Jakarta. Akhirnya akan tibalah kita pada titik dimana terjadi sinergi
antara daya pikir pejabat negara, kita dan alam semesta untuk mencari solusi
macet Jakarta. Bayangkan jika anggota DPR diharuskan naik busway kegedung DPR
dan atau menteri kabinet Indonesia Bersatu diwajibkan naik bus dari rumah elit
mereka di daerah Cibubur ke kantor-kantor di Jakarta. Layanan busway dan bus
lain akan dipaksa meningkat dari sisi kuantitas dan utamanya adalah kualitas.
Jika pejabat negara tidak merasakan rill-nya kemacetan yang dialami masyarakat
maka kebijakan yang diambil sebagai solusi pun tidaklah memecahkan masalah.
Saya sih sudah
sangat jenuh dengan macetnya Jakarta. Bagaimana dengan anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar